PROGRAM MENTORING TEROBOSAN PELAYANAN ANAK

Saya melayani di sebuah gereja di Serpong, Tangerang Selatan. Di gereja ini saya menjadi guru sekolah minggu sampai hari ini. Tahun 2014 saya diminta menjadi wakil dan sekaligus pembina dan tim kreatif. Waktu itu jumlah anak Sekolah Minggu kami hanya sekitar 300an. Puji Tuhan dengan berbagai perubahan dan terobosan baik pribadi guru dan model ibadahnya, tahun 2018 jumlah keseluruhan sekolah minggu di gereja kami mencapai 1400an anak mulai dari umur 1th sampai kelas 6 SD dengan 5 kali ibadah setiap minggu.

Terobosan di bidang pelayanan anak ini tidak terjadi begitu saja, butuh kerja keras, teamrowk yang solid dan dukungan dari pihak penggembalaan serta kreatifitas yang asyik dan menarik di setiap ibadah anak. Perlu acara-acara spesial yang membuat anak bergairah datang ke sekolah minggu/ibadah anak.

Nah, saya rindu gereja Anda juga mengalami penuaian anak-anak. untuk itu saya ingin berbagi kiat untuk mengalami terobosan di bidang pelayanan anak ini. Program mentoring mencakup pembinaan guru, mempersiapkan acara spesial dan berbagai property yang dibutuhkan, serta metode dan sarana yang menunjang terjadinya perubahan dan terobosan.

Bila gereja Anda berminat, silahkan hubungi :
via wa: 0817-690-7033
email: masyudipribadi@gmail.com






JASA PENULIS, LAY OUT, DESAIN COVER dan EDITOR BUKU

Kalau Anda bingung mau menerbitkan buku sendiri, tapi cuma bisa ngetik di ms words, saya siap membantu Anda dalam mendesain, melay-out dan mengedit karya Anda supaya lebih ciamik dan layak jual dengan bahasa standard penerbitan.

Dan bila Anda pemimpin sebuah organisasi, publik figur, pemimpin agama, pemimpin perusahaan atau seorang ayah yang berhasil dan ingin membukukan kisah kesuksesan Anda, namun tidak punya waktu menulis, saya siap membantu Anda mewujudkan karya Anda sebagai co-writer. Silahkan hubungi saya via hp/wa : 0817-690-7033

Berikut ini beberapa contoh buku yang pernah saya kerjakan:




Cinta Dan Waktu


Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak : ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya. Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri. 

Cinta sangat kebingungan karena ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai dan mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.

Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu.
”Kekayaan! Kekayaan! Tolong aku!” teriak Cinta.
”Aduh! Maaf, Cinta!” kata Kekayaan.
“Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini”.
Lalu Kekayaan cepat-cepat mengayuh perahunya pergi. Cinta sedih sekali, namun dilihatnya Kegembiraan lewat dengan perahunya.

“Kegembiraan! Tolong aku!”, teriak Cinta.
Namun kegembiraan terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tak mendengar teriakan Cinta. Air makin tinggi membasahi Cinta sampai ke pinggang dan Cinta semakin panik. 

Tak lama lewatlah Kecantikan.
“Kecantikan! Bawalah aku bersamamu!”, teriak Cinta
“Wah, Cinta, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini”, sahut Kecantikan. Cinta sedih sekali mendengarnya. 

Ia mulai menangis terisak-isak. Saat itu lewatlah Kesedihan. 
”Oh, Kesedihan. Bawalah aku bersamamu”, kata Cinta.
”Maaf Cinta. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja...” kata Kesedihan sambil terus mengayuh perahunya. 

Cinta putus asa. Ia merasakan air semakin naik dan akan menenggelamkannya. Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara.
”Cinta! Mari cepat naik ke perahuku!”
Cinta menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua dengan perahunya. Cepat-cepat Cinta naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan Cinta dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah Cinta sadar bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang menyelamatkannya itu. Cinta segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu.
”Oh, orang tua tadi? Dia adalah Waktu” kata orang itu.
”Tapi mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan temanteman
yang mengenalku pun enggan menolongku” tanya Cinta heran.
”Sebab” kata orang itu
”Hanya Waktulah yang tahu berapa nilai sesungguhnya dari Cinta itu...”

Ya...hanya WKTU-lah yang akan mengerti betapa bernilainya sebuah CINTA...

SEPUCUK SURAT DARI SEORANG ANAK UNTUK PAPA MAMANYA


Papa yang kurindukan...
            Papa, pandanglah aku dan lihatlah mataku. ApakahKau lihat kerinduanku untuk bersamamu. Bermain bersama-sama, menggendongku, mengajakku berjalan-jalan serta membelikanku ice cream seperti yang dulu kita lakukan bersama. Sekarang Papa jarang bersamaku lagi. Setiap aku mengajak Papa jalan-jalan atau mendongeng untukku, Papa selalu berkata,”Papa tidak sempat sayang, pekerjaan Papa banyak” atau Papa berkata:”Sayang, lain kali saja yah. Hari ini Papa capek”. Benarkah tidak ada lagi waktu Papa untukku?
            Walaupun Papa sering membelikanku hadiah, bukan itu yang kuinginkan. Aku rindu kasih sayangPapa, Aku rindu pelukanmu dan usapanmu di kepalaku. Aku lebih senang jika Papa tidak bekerja dan di rumah saja menemani aku, tapi Mama bilang kalau Papa tidak bekerja nanti kita tidak bisa makan.
            Apakah semua pekerjaan itu jahat sampai mengambil semua waktu Papa bersamaku? Sering aku nakal tapi sebenarnya bukan maksudku untuk nakal. Kupikir dengan  cara inilah Papa baru memperhatikan aku. Papa berikanlah waktumu untukku. Aku membutuhkan kasih sayang dan perlindunganmu.

Mama yang baik.....
            Aku mau mama selalu di dekatku, menyayangi aku dengan penuh kasih. Karena mamalah yang paling sering bersamaku. Pakaian dan mainan yang mama berikan itu baik, tapi aku lebih suka kalau mama memeluk dan menemaniku ketika aku tidur dan mengajariku berdoa dan mamalah yang ingin kulihat di saat aku bangun pagi.
            Mama yang selalu berkata agar aku tidak nakal, tetapi tahukah mama mengapa aku nakal? Aku ingin mendapat perhatian dari Mama. Hanya usapan tangan Mama yang lembut, tatapan mata yang penuh kasih dan pelukan hangat yang kurindukan.

Papa dan Mama yang terkasih...
            Aku memang belum tahu bagaimana kehidupan orang dewasa. Aku belum tahu masalah yang mereka hadapi. Tetapi apakah semua orang dewasa selalu menumpahkan kekesalannya kapada anak-anak? Papa dan Mama, bukankah Papa dan Mama dulu juga pernah kecil? Aku senang dan bahagia sekali bila kita bisa bersama-sama bermain dan tertawa bersama. Itu akan kuingat hingga aku dewasa nanti. Tetapi aku benci sekali bila Papa dan Mama berselisih di depanku. Aku pikir orang dewasa juga seperti anak kecil, suka bertengkar! Padahal kalau kami bertengkar, Papa dan Mama selalu memarahi kami.
            Aku mau menjadi seperti Yesus yang kudengar di Sekolah Minggu, baik dan penuh kasih kepada orang lain. Tolonglah, Papa dan Mama menjadi teladanku agar aku bisa menjadi seperti Yesus. Dan aku akan menjadi baik bila Papa dan Mama bisa menjadi teladanku yang baik.
                                                                                    
dari Anak Papa-Mama

MINYAK SUCI, AIR SUCI, GARAM SUCI...???


Oleh: Daniel Iswahyudi, S.Th.

Seorang teman berseloroh kepada saya suatu ketika, “Kalau kamu ingin cepat sembuh, minum air suci dan olesi dengan minyak urapan...” Saya sedikit terkejut. Apa lagi ini? Soal minyak urapan sudah tidak asing lagi bagi saya, tetapi air suci...wah ini adalah hal yang baru!

Saya tidak bermaksud mendeskriditkan organisasi gereja tertentu yang meyakini kedua hal tersebut. Saya sendiri pernah menyaksikan kuasa Allah dalam diri adik bungsu saya yang terjadi ketika kami berdoa dan mengoleskan minyak sesuai anjuran Rasul Yakobus (Yak 5:14). Peristiwa itu sudah terjadi 30-an tahun yang lalu, jauh sebelum ajaran tentang minyak urapan berkembang dan menjadi trend.
         
Namun yang perlu kita renungkan kembali: patutkah minyak urapan diperjual-belikan layaknya obat mujarab yang bisa menyembuhkan segala penyakit? Tak heran bila kita temukan ada beberapa anak Tuhan datang ke gereja membawa sebotol besar minyak goreng, didoakan oleh pendeta, dibawa pulang, dikemas dalam botol kecil lalu dijual dengan label “minyak urapan” dapat menyembuhkan berbagai penyakit, menolak kuasa jahat, bahkan sampai melancarkan saluran air yang tersumbat. Apalagi sekarang ada minyak ‘suci’ yang tak kalah mujarabnya. Saya rasa sebentar lagi toko obat dan para dokter akan gulung tikar....
         
Lalu apa yang keliru di sini? Jujur saja, bila kita menerima kedua benda tersebut dalam botol kecil, kebetulan kita sedang bermasalah, kira-kira fokus kita tertuju kepada kuasa Tuhan Yesus atau kepada minyak urapan dan air suci itu? Saya rasa kita akan langsung mengoleskan minyak itu atau meminum air mujarab tersebut sebab kita yakin benda itu besar khasiatnya. Kekeliruannya terletak pada iman kita yang sudah beralih dari kuasa Tuhan kepada kuasa barang fana. Anda tahu, Allah bisa memakai segala cara untuk membuat mujizat, bukan hanya memakai minyak atau air. Perhatikan ketika Musa membuat air pahit menjadi manis, Allah menggunakan sepotong kayu (Kel 15:25). Ketika Elisa mentahirkan air sungai Yordan, Allah menggunakan garam (2 Raj 2:9-11). Ketika Allah menyembuhkan Hizkia, Ia memakai kue ara (Yes 38:21). Tuhan Yesus waktu menyembuhkan orang buta, memakai tanah yang diludahi (Yoh 9:6). Jadi Allah bisa memakai benda apapun untuk menolong kita dan membuat mujizat, karena Dia, Allah yang Mahakuasa!
            
Camkan ini: Tuhan Yesuslah sumber segala kuasa, mujizat dan pertolongan; bukan barang-barang dunia fana ini! Oleh kesengsaraan-Nya di kayu salib, kita beroleh anugerah keselamatan dan oleh bilur-bilur-Nya kita disembuhkan (1 Pet 2:24). Oleh sebab itu, jangan biarkan ajaran apapun membuat iman Anda bergeser dari fokus iman kita yang seharusnya. Yesuslah yang harus kita pegang dengan kedua tangan kita. Jangan kita pegang Tuhan Yesus di tangan kanan, tetapi ada ‘sesuatu yang lain’ yang kita genggam di tangan kiri. 

Kalau ada minyak suci, air suci....jangan-jangan sebentar lagi akan ada garam suci.....hehehe...

SAYA HANYA ALAT...

Oleh: Daniel Iswahyudi, S.Th.

Saya mengunjungi sebuah desa dan mampir di sebuah gereja. Seorang gadis desa kelas 2 SMP dengan kesederhanaannya memimpin pujian dalam sebuah ibadah malam. Dia memimpin dengan sangat sederhana. Tidak ada komentar, tidak ada kata-kata yang memaksa, musiknyapun hanya sebuah gitar akustik. Tetapi suasana ibadah itu sangat indah. Jemaat memuji dengan bersemangat ketika pujian praise dinaikkan. Jemaat juga bersungguh-sungguh ketika mereka menyembah kepada Allah. Sang pemimpin pujian kecil inipun berlinangan air mata ketika menaikkan pujian penyembahan. Ia begitu lugu, tidak sepintar kita para hamba Tuhan di kota ini. Tetapi tahukah Anda, gadis kecil ini adalah gembala sidang gereja kecil itu.
Ia menjadi gembala sidang, menjadi pemimpin ibadah dan menyampaikan firman Tuhan, bukan dengan keahliannya, melainkan dengan otoritas dan wibawa dari Allah. Tidak ada jemaat yang menganggap dia rendah karena dia muda. Semua jemaat menghormatinya sebagai seorang gembala jemaat. Setiap ibadah yang dilakukan selalu mendatangkan sukacita dan memberkati seluruh jemaat.
Ketika ia ditanya apa rahasianya sehingga dia dapat melakukan semua itu? Gembala kecil ini menjawab: “Saya hanya alat, yang melakukan semuanya adalah Tuhan sendiri. Saya tidak bisa berbuat apa-apa dalam usia saya yang masih muda ini, tetapi Allah yang Mahabesar sanggup melakukannya untuk membangun jemaatnya.”
Ketika ia ditawari untuk masuk ke sekolah Alkitab setelah lulus SMP, kembali ia menjawab bahwa ia hanya alat Tuhan. Tuhan memakainya untuk menjadi gembala gereja kecil itu pada saat itu, entah esok atau lusa. Tuhan bisa saja menggantikannya. “Saya akan menyelesaikan tugas saya saat ini, esok atau lusa itu urusan Tuhan...”
Seandainya semua pelayan Tuhan memiliki pandangan sedewasa anak muda ini, tentulah tidak ada hamba Tuhan yang tergelincir dalam dosa kesombongan dan mengkultuskan dirinya sendiri. Apa yang bisa kita perbuat, apa yang dapat kita lakukan; Keahlian kita menjadi song leader, kepiawaian kita menjadi pengkhotbah dan kepandaian kita menjadi konselor adalah semata-mata karena Tuhan saja. Tuhan melalui Roh-Nya yang kudus memberikan karunia-karunia dan hikmat sehingga kita sanggup melakukan semua itu. Kita hanya alat Tuhan. Tuhan memakai kita kapan saja ia mau memakainya. Tuhan juga bisa tidak memakai kita, bila Ia menghendakinya. Itu terserah Tuhan. Itu wewenang Tuhan. Dan kehendak Tuhan adalah mutlak. Tak seorangpun dapat menolaknya.
Jadi pada saat kita dipakai Tuhan, janganlah kita memegahkan diri. Janganlah kita mencari kemuliaan diri sendiri, apalagi meng-komersil-kan keahlian kita itu. Segala kemuliaan dan hormat dan pujian biarlah kita kembalikan kepada Tuhan Yesus Kristus. Sebab memang hanya kepada Dia sajalah semua itu dipersembahkan. Pada saat kita dipakai Tuhan dengan ajaib, janganlah kita lupa, suatu saat Tuhan pun bisa tidak memakai kita lagi.
Anda yang saat ini sedang dipercayai Tuhan untuk melakukan tugas Anda di dunia ini, entah itu sebagai pelayan Tuhan di gereja, menjadi karyawan, menjadi ibu rumah tangga atau menjadi pelajar, lakukanlah itu dengan penuh tanggung jawab. Berusahalah menjadi alat yang baik di tangan Allah. Bila tiba waktunya kita dipanggil Tuhan, Ia akan bertanya apakah tugas kita sudah kita lakukan dengan baik? Apakah selama hidup kita di dunia, kita telah menjadi alat yang berguna di tangan Tuhan dan mendatangkan kemuliaan bagi Tuhan? Renungkanlah: apapun posisi Anda dan dimanapun Anda ditempatkan Tuhan, selesaikanlah itu dengan baik. Jadilah  pelayan Tuhan yang baik, jadilah karyawan yang baik, jadilah ibu rumah tangga yang baik, jadilah pimpinan yang baik dan jadilah pelajar yang baik***

PASTI ADA TUJUANNYA

Sejak kecil saya sudah sering sakit. Saya pernah terserang paru-paru basah pada umur 5 tahun. Dua atau tiga kali terserang malaria ketika duduk di bangku SD. Radang tenggorokan akut. Tiga kali mengalami Typus. Dua kali Disentri Amuba parah. Gangguan jantung,  bronkhitis kronis. Hampir seluruh hari-hari saya, saya lalui dengan penderitaan. Hari-hari sehat saya bisa dihitung dengan jari.


Pada saat saya mengikuti kuliah di seminari, hampir setiap minggu saya batuk dan radang tenggorokan yang sangat menyiksa dan itu saya alami sampai semester akhir. Pada semester paling akhir saya terserang TBC Kelenjar yang membuat kesehatan saya semakin melemah. Dokter menyarankan agar saya ambil cuti kuliah, tetapi saya optimis, selesai semester delapan saya bisa merampungkan skripsi saya. Beberapa bulan menjelang ujian skripsi, terjadi pembengkakan tulang di rahang bawah saya dan itu sangat mempengaruhi otak saya.

Sepanjang saya mengalami berbagai penyakit itu, apalagi ketika saya di seminari, ada teman-teman yang selalu menguatkan saya. Tetapi tidak sedikit yang memperolok saya. Mereka berkata: “Hamba Tuhan kok penyakitan. Bagaimana mau menyaksikan keajaiban Tuhan sementara dirinya sendiri sakit?” “Kamu banyak dosa. Kamu kurang doa. Kamu kena kutuk” dan sebagainya. Kadang saya merasa lemah dan berputus asa menghadapi kelemahan tubuh saya. Tetapi oleh kemurahan dan kekuatan dari Tuhan saya bisa menanggung dan melalui semua itu. Pada saat saya menulis refleksi inipun, saya sedang sakit. Saya tidak bisa berdiri. Saya hanya bisa duduk walaupun itu sangat tersiksa.

Ada banyak hal yang saya pelajari dari semua itu: bahwa pada saat kita lemah, kuasa Tuhan dinyatakan. Pada saat kita mengalami penderitaan, kita kaya akan anugerah Allah. Rasul Paulus dalam pelayanannya selalu dirong-rong oleh berbagai penderitaan, salah satunya adalah ‘duri dalam daging’ yang banyak dinyatakan sebagai kelemahan tubuh atau penyakit yang menjijikkan (Gal 4:14). Puji Tuhan, sampai saat ini pula saya masih bisa melayani Tuhan, meskipun dengan cara yang berbeda. Meskipun hanya dengan tulisan.

Bagi Anda yang mungkin mengalami berbagai penderitaan dan pencobaan dalam mengiring Tuhan Yesus. Jangan menjadi lemah. Dalam setiap penyakit, kelemahan tubuh, penderitaan, hinaan dan penganiayaan yang menimpa kita pada saat kita sungguh-sungguh mengiring Dia, tentu ada maksud yang tersembunyi dari Tuhan. Itu bukan kutuk! Tetapi ada tujuan Allah yang akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Dan bila tujuan itu sudah terlaksana, Allah akan mengangkat semua itu. Jangan mundur atau berpaling dari Tuhan. Anda akan menjadi anak Tuhan yang jempolan bila Anda tetap bertahan. Apalagi pada saat Anda mengalami semua itu, Anda bisa menguatkan orang lain yang menderita pula. Anda akan mendapat nila “plus’ dari Allah. Bukankah penderitaan ringan yang kita tanggung di dunia ini tidak ada apa-apanya bila dibanding kemuliaan yang akan kita terima dalam Rumah Bapa kelak? Teruslah maju, teruslah menghasilkan buah dan jangan berhenti mengasihi Tuhan Yesus.**

KONTRADIKSI

Pernahkah Anda mengalami situasi seperti ini:

Di gereja pendeta berdoa "Engkau akan menjadi kepala dan bukan ekor" tapi kenyataannya selama ini engkau hanya ekor dan sampai saat ini engkau tidak pernah jadi kepala

Di gereja pendetamu berkata "Engkau akan terus naik dan tidak pernah turun" kenyataannya engkau tidak pernah naik, bahkan sekarang engkau sedang turun...semakin turun sampai titik terendah dalam hidupmu

Di gereja pengkotbah berkata "Tuhan akan membuka pintu-pintu berkat bahkan pintu-pintu yang tertutup akan dibukakan bagimu" kenyataannya bahkan satu pintu pun sepertinya tidak ada yang terbuka bagimu...semua tertutup dan engkau menemui jalan buntu

Di gereja pendeta berkata "berilah perpuluhan, berilah buah sulung, ayo menabur untuk Tuhan...maka engkau akan menerima berkata berlipat kali ganda.." nyatanya, setelah engkau memberi hidupmu tetap biasa saja, masih bergelut dengan masalah ekonomi, bahkan kadang engkau harus hidup pas-pasan...

Di gereja pendetamu berkata "Tuhan akan berperang bagi kamu, dan engkau akan melakukan perkara-perkara yang besar..." tapi engkau melihat dalam hidupmu nggak ada yang luar biasa, bahkan untuk hal yang biasa saja engkau sulit melakukannya...

Di gereja pengkotbah di mimbar berkata "Mujizat masih ada, Tuhan akan menyembuhkan segala sakitmu.." dan engkau tertawa dalam hati mungkin juga menangis, karena untuk sakitmu yang hanya satu itu, sudah bertahun-tahun tidak terjadi mujizat, tidak ada kesembuhan, bahkan dokter bilang tidak bisa sembuh...

Di gereja pengkotbah berkata "Pekerjaanmu dan usahamu akan dibuat berhasil!" tapi nyatanya kamu sedang gagal dan terus menerus gagal...

Di gereja pendetamu berkata "Tuhan akan mengarahkan pandangan-Nya padamu, Tuhan menyinari engkau dengan wajah-Nya..." dan engkau tersenyum pahit, karena yang kau rasakan saat ini, sepertinya Tuhan sedang berpaling darimu....

Lalu bila kenyataan tidak seperti yang dikatakan dan dikotbahkan para pendeta itu, dan engkau merasakan kontradiksi dalam hidupmu, apakah engkau salah?

Saya berkata engkau tidak salah merasa begitu. Engkau tidak perlu menutupi perasaanmu di hadapan Tuhan. Bila kenyataan tidak seperti yang dibicarakan dan diharapkan...Anda tidak perlu menutupi perasaan itu di hadapan Tuhan. Berbicaralah kepada-Nya. Jujurlah akan perasaanmu. Menangislah bila perlu menangis di hadapan-Nya...

Bukan kamu merasa kontradiksi hidupmu dengan apa yang dibicarakan para pendeta itu, bukan kamu yang salah...tapi kebanyakan para pengkotbah dan pemimpin jemaat hanya berbicara untuk memberitakan yang baik-baik saja. Berkata yang ingin didengar oleh jemaat. Memberikan harapan yang kadang "palsu". Sebab Tuhan Yesus sendiri tidak pernah berkata di akhir jaman ini keadaan akan menjadi lebih baik...Justru Dia berkata di akhir jaman ini keadaan akan semakin sulit, semakin jahat...

Lalu apa yang harus dilakukan? Saya berkata: TETAPLAH BERIMAN KEPADA TUHAN. Sekalipun hidupmu terasa berat. Sekalipun sakitmu tak kunjung sembuh. Sekalipun engkau hidup pas-pasan. Sekalipun engkau merasa hidupmu gagal. Sebab Tuhan tidak melihat "keberhasilanmu" di dunia ini... Tuhan melihat apakah engkau bisa "melewati" dunia ini tetap dalam iman kepada-Nya. Tuhan melihat apakah dalam keadaanmu yang "BERAT" itu engkau masih bisa bersyukur, masih bisa memuji Tuhan, dan tidak meninggalkan Tuhan.

Ada lagu lama yang mungkin bisa kau nyanyikan bila hidupmu terasa berat...
Sabar...dalam sukar susahmu...
Sabar...Tuhan ada sertamu
Sabar...sabar... bri kuat padamu...

Tetaplah kuat. Jangan menyerah dengan hidupmu. Jangan putus asa. Jangan bunuh diri.
Tuhan masih ada untukmu...

BELAJAR KEARIFAN DARI JEPANG


Kemenangan petenis muda Jepang, Naomi Osaka, di Amerika Terbuka, di Arthur Ashe Stadium, New York, Ahad pekan silam.

Gadis berusia 20 tahun itu menghentikan mimpi Serena Williams, pemegang 23 kali gelar di turnamen grand slam, yang menjadi idolanya.

Sedikitnya ada dua kemenangan yang diukir gadis penyuka permainan Pokemon itu.

PERTAMA, kemenangan melawan Williams dengan dua set langsung, yakni 6-2 dan 6-4.

Ia menjadi petenis Jepang pertama yang mengukir gelar di turnamen grand slam di nomor tunggal.

Dua tahun lalu Williams pernah memuji petenis Jepang itu bakal 'berbahaya', dan ia betul-betul merasakan 'bahaya' itu.

Kemenangan Osaka menjadi penghiburan besar bagi rakyat Jepang yang tengah berduka dihantam bencana berturut-turut selama sepekan, yakni gempa bermagnitudo 6,7 skala Richter di Hokkaido dan Topan Jebi di bagian barat dan tengah Jepang.

Puluhan orang meninggal, satu juta warga mengungsi.

"Terima kasih sudah memberikan energi dan inspirasi kepada semua warga Jepang,"
puji Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe lewat akun Twitter-nya.

Jepang, bangsa yang punya banyak prestasi di bidang industri, ternyata butuh kebanggaan dan penguat diri dari olahraga.

KEDUA, kemenangan melawan publik Amerika yang tak mau petenis pujaannya kalah.

Terlebih ada drama ketegangan antara Williams dan wasit, Carlos Ramos, yang memimpin pertandingan.

Serena menuding Ramos berbuat culas.

Ia membanting raketnya hingga reyot.

Inilah malapetaka baginya. Wasit pun memberikan poin pada Osaka. 

Adegan itu saja sudah menguras emosi, tentu juga emosi penonton.

Ada lontaran cemooh yang riuh kepada wasit.

Namun, Osaka tetap tenang dan akhirnya menang.

Namun, tak ada ekspresi kelewat riang sang pemenang yang kontras dengan kesedihan sang pecundang.

Selama upacara penyerahan piala, ia kerap menutup wajah dengan topi karena tangisnya yang tak berhenti.

Ia terus menunduk.
Sesekali menatap sejenak ke arah penonton yang riuh.
Ia merasa telah menyakiti penonton dan sang idolanya. 

"Saya minta maaf.

Saya tahu bahwa semua orang bersorak untuk Williams dan saya menyesal bahwa itu harus berakhir seperti ini.

Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih yang telah menonton pertandingan.

Terima kasih,"
ujar Osaka terbata-bata.

Ia juga canggung ketika menerima piala, seolah ia mengatakan piala itu lebih pantas untuk Williams.

Ada banyak penonton yang berderai air mata.

Untunglah Williams yang impulsif di lapangan jadi rendah hati seusai permainan.

Ia terus menguatkan juniornya yang sulit berkata-kata.

Keduanya menangis dan saling menguatkan.

Jadilah upacara penyerahan piala pemandangan penuh sedu sedan.

Dalam konferensi pers, berkali-kali pula Naomi mengucapkan terima kasih kepada Serena, yang dicintainya.


Ketulusan Osaka itulah yang disebut warganet,

 "Dia orang Jepang dan membuat Jepang bangga."

Itulah nilai-nilai Jepang yang gigih dan pandai dalam pengendalian diri.

Padahal, sejak sebelum sekolah dasar Naomi telah pindah ke ‘Negeri Barack Obama’ itu memang untuk belajar tenis.

Namun, nilai-nilai Jepang tetap melekat dan hidup kepada Naomi.

Inilah identitas Jepang.
Inilah kultur Jepang.



Peristiwa lainnya ialah Piala Dunia 2018 di Rusia, medio tahun ini. 


Langkah Jepang memang terhenti di babak 16 besar, tetapi mereka menang di hati penonton.

Setiap timnas Jepang seusai laga, para penonton Jepang  bergerak menjadi tim kebersihan.

Dengan membawa kantong sampah berukuran besar, mereka bergerak serentak memunguti sampah-sampah yang berserak-serak.

Tak segan pula mereka menepuk bahu penonton yang jorok membuang sampah untuk memungutnya kembali.

Mereka menunjukkan kebersihan ialah hal dasar yang melekat pada masyarakat Jepang.

Di negeri itu, kebersihan menjadi satu paket dengan budaya jujur, budaya malu, kerja keras, budaya baca, dan budaya berdisiplin.


Jiwa gotong royong mereka tak lekang oleh waktu.

Mereka bangsa tak pernah lupa pada 'bumi' meski kemajuan teknologi telah 'menerbangkannya ke langit tinggi'.    

Seperti ditulis Francis Fukuyama,

Jepang menjadi salah satu bangsa selain Jerman, yang tingkat kepercayaan antarmasyarakatnya amat tinggi (high trust society).


Padahal, sejak kecil ia telah berpindah ke Amerika untuk belajar tenis, tetapi nilai-nilai pengendalian diri, kesantunan, dan penghargaan pada orang lain tak pudar.

Itulah nilai-nilai Jepang.

Tiongkok pun berterus terang, dalam menggapai kemajuan hari ini, banyak belajar pengendalian diri pada Jepang.

Lalu, ke mana Indonesia yang sejatinya menjadi sumber banyak kearifan dan keunggulan berbasis masyarakat? Sayang, hanya karena perbedaan pilihan politik, kita saling menyerang dengan brutal.

Itulah wajah kita di media sosial.

Demi kepentingan politik, fakta ditertawakan dan kebenaran diinjak-injak.

Yang terpenting menyeranglah terlebih dahulu, secepat-cepatnya, sebanyak-banyaknya, dan senyaring-nyaringnya.

Wajah-wajah para pembuat keonaran itu kerap terbayang-bayang.

Wajah-wajah yang sesungguhnya bukan kita.

sumber: Grup WA

MATI TERHADAP DIRI...

Jika Anda dilupakan, diabaikan atau ditolak, dan Anda tidak membalas, atau merasa terluka, bahkan Anda merasa berbahagia, karena dianggap layak unrtuk menderita karena Kristus…Itulah mati terhadap diri.
Jika kebaikan Anda dijelek-jelekkan, jika keinginan Anda ditentang, nasihat Anda tidak dipedulikan, pendapat Anda diolok, namun Anda menolak untuk menjadi marah, atau mempertahan-kan diri, tetapi menerima itu semua dengan sabar, berdiam diri dengan penuh kasih…Itulah mati terhadap diri
Jika Anda dengan sabar dan kasih menanggung setia ketidak-tertiban, ketidak-teraturan, kekecewaan; jika Anda diperhadapkan dengan kesia-siaan, kebodohan, pemborosan, ketidak-pekaan rohani, dan menanggung itu semua sebagaimana Yesus telah menanggungnya...Itulah mati terhadap diri
Jika Anda puas dengan makanan apa saja, persembahan berapa saja, iklim apa saja, masyarakat mana saja, pakaian apa saja instruksi apapun oleh kehendak Allah...Itulah mati terhadap diri
Jika Anda tidak pernah menonjolkan diri dalam percakapan atau mencatat kata-kata Anda sendiri yang baik atau tergelitik setelah mendapat pujian, jika Anda betul-betul lebih menyukai untuk tidak dikenal....itulah mati terhadap diri!
Jika Anda melihat saudaramu makmur, dan segala kebutuhanya terpenuhi dan dengan tulus dapat bersukacita bersama dia dalam roh dan tidak merasa iri atau bertanya-tanya kepada Tuhan, sementara kebutuhan-kebutuhan Anda sendiri makin meningkat dan bahkan dalam keadaan sangat terjepit… Itulah mati terhadap diri!
Jika Anda dapat menerima koreksi dan teguran dari seseorang yang kedudukannnya lebih rendah dari Anda dan dengan rendah hati dapat menerima baik secara lahir maupun batin, dan tidak ada perlawanan atau rasa kesal timbul dalam hatimu....Itulah mati terhadap diri!
Sudahkah Anda mati terhadap diri ? Pada hari-hari terakhir ini roh akan membawa kita kepada salib “supaya kita dapat mengenal Dia…dan menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya “ (Filipi 3:10).
Bila tujuan hidup kita adalah meneladani Kristus, itu berarti kita harus memikul salib kita, membawanya ke Golgota dan memakukan “diri” kita di sana sampai mati. Itulah mati terhadap diri, dan itulah menjadi serupa dengan kematian-Nya. Sebab tanpa itu, maka kita tidak akan memperoleh kemuliaan dalam kebangkitan-Nya. Kiranya Roh Kudus menolong kita semua. Amin. - Kak Yudi