AKADEMI BISNIS DIGITAL

Sudah tidak bisa bertahan lagi bisnis kita menggunakan cara kovensional, jamannya sudah berubah. Apa dong solusinya?

1. Jangan berhenti berbisnis konvensional karena tidak bisa kita pungkiri faktanya masih ada costemer kita yang masih membeli produk secara konvensional

2. Cobalah sekarang gunakan juga bisnis digital, karena anda juga akan melihat betapa dasyatnya bisnis digital.

Dengan bisnis digital omzet pendapatan anda akan naik berkali-kali lipat.

Karena sebagian besar orang hari ini mengakses dan menggunakan digital, mereka 24 jam dan 7 hari mengakses digital.

Digital sudah menjadi bagian hidup yang tidak bisa mereka tinggalkan.

Saatnya anda belajar dari sekarang, jangan sampai anda ketinggalan.

Merasa Gaptek?
Tidak punya uang?
Gak ada produknya?
Gak ada waktu belajarnya?

Itu bukan alasan karena kami akan memberikan solusi yang anda butuhkan

Klik Link di bawah ini sekarang juga, lihatlah dan rasakan hasilnya Gratis.

KLIK DISINI

Surat terbuka untuk para gembala dan pemimpin jemaat, dari guru sekolah minggumu...

Dear my Leader, My Spiritual Father, in my Church...
Kami hanya guru sekolah minggu, yang mungkin tidak terlalu penting buat Anda... Kami sering berpapasan dengan Anda, salaman dengan Anda, tapi tetap saja Anda tidak kenal kami...
Kami mengajar di Sekolah Minggu di gereja Anda sudah lama, tapi hampir tidak pernah Anda menengok kami, anak-anak sekolah minggumu, guru-guru sekolah minggumu, padahal Anda adalah bapak rohani kami...kami anak-anak Anda...tapi kami seperti yatim piatu, nggak pernah ditengokin, ditegur, diajak ngobrol oleh Anda selaku bapak rohani kami, pemimpin kami...
Kami yang sering dimarahi oleh orang-orang kepercayaan Anda, waktu kami GSM cerita terlalu singkat dan pengkotbah di ibadah umum lama, Anda memarahi kami "mengapa SM terlalu cepat selesai, tapi saat ibadah umum cepat selesai dan kami belum selesai mengajar, kami dimarahi, kenapa lama sekali, orang tua sudah menunggu...Kami sering merasa serba salah...
Kalau anak-anak lari-larian dan "mengganggu" ibadah umum, kami yang disalahkan...kalau banyak anak yang nggak mau ke ruang SM, kami juga yang disalahkan...kami kurang acara kreatif, kami salah, kami banyak acara kreatif sehingga menyerap banyak biaya, kami disalahkan juga...padahal Anda tahu, semua anggaran itu untuk anak-anak Anda juga...bukan untuk kami, kalaupun Anda memberi kami transport, itu tak seberapa, sekali makan habis, beda dengan pemain musik, WL, atau pengkotbah di ibadah umum, ini bukan iri ya...tapi inilah kenyataan... kami mengajar bisa seharian, karena ibadah di gereja Anda dari pagi sampai sore beberapa kali ibadah.. Bahkan saat kami mengambil konsumsi untuk GSM, kami dicurigai, kenapa banyak sekali? Hehehehe...Anda tahu, mengajar anak beda dengan mengajar orang dewasa, kami memang butuh guru yang banyak untuk menangani anak-anak yang banyak... idealnya satu guru hanya pegang 5-6 anak, Anda tahu, kami masih kekurangan tenaga guru, tapi Anda berkata kami terlalu banyak????
Dear my Leader, My Spiritual Father, in my Church...
Kami sering bertanya, apakah sebenarnya sekolah minggu ini masih diperlukan di gereja? Karena setiap kami mengajukan anggaran untuk alat peraga, untuk acara anak, dan berbagai keperluan lain di sekolah minggu, selalu dikurangi, bahkan ada yang ditolak...INI TIDAK PERLU! Padahal Anda menuntut kami menjaring jiwa banyak-banyak...dan apakah Anda tahu, sebagian jemaat dewasa yang datang di gereja Anda, itu karena mengikuti anak-anak mereka yang maunya sekolah minggu di gereja Anda...Kami dituntut maximal, profesional, tapi anggaran kami minimallll....
Yach, kami memang tidak terlalu penting...bahkan sebuah survey menunjukkan hampir semua gereja anggaran untuk anak hanya 3% dari seluruh anggaran gereja...Kadang kalau kami masuk ke ruang ibadah umum yang wahh...mewah...fasilitas wah, ac dingin...tahukah Anda, atau apakah Anda pernah masuk ruang SM? Ac-nya panas, bahkan ada yang belum pakai AC...nggak ada multimedia, jangankan fullband, keyboard atau gitar saja nggak ada...
Dear my Leader, My Spiritual Father, in my Church...
Ini bukan keluhan, kami sukacita melayani anak-anak, kami mengasihi mereka, sebab kalau tidak, pasti kami sudah cabut, ngapain capek2 ngurus anak orang...nggak dibayar lagi! Tapi kami mengasihi mereka...mereka perlu mengenal Tuhan Yesus sejak kecil, agar mereka tidak binasa...
Kami hanya perlu merasa, bahwa Anda benar-benar Bapak Rohani kami, gembala kami, leader kami...yang mendukung pelayanan kami, mengayomi pelayanan kami dan peduli pada pelayanan kami... Kami hanya rindu merasa bahwa kami tidak yatim piatu di gereja kami...
Sekali lagi, ini bukan keluhan, tapi hanya ingin memberikan Anda wawasan...Setelah Yosua bangsa Israel kehilangan generasi yang mengenal Tuhan, sesudah rasul-rasul banyak gereja yang tertulis di Alkitab sudah punah, karena kehilangan generasi...negara-negara Eropa ada gereja-gereja yang kosong, dijual jadi bar, resto, bahkan tempat ibadah agama lain...kenapa? Mereka kehilangan generasi... Pernahkah Anda bayangkan, bila gereja Anda tanpa ada kami guru-guru sekolah minggu?? Siapa yang akan meneruskan gereja Anda 15-20 tahun mendatang???
Semoga Anda membaca surat ini...
Semoga Anda merenungkannya...
Dan saya berdoa Anda (bukan hanya gembala kami, tapi semua pemimpin jemaat) berubah paradigmanya tentang sekolah minggu atau pelayanan anak di gereja Anda...
Salam dalam kasih
Guru Sekolah Minggumu

YESUS BIKIN HIDUP LEBIH HIDUP


Seorang peminum berat suatu malam mabuk dan tertidur di kandang kuda, tetapi di sanalah ia bertemu dengan Yesus. Kemudian hidupnya berubah, ia menjadi seorang suami dan ayah yang baik bagi keluarganya. Perjumpaannya dengan Yesus telah mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Seorang wanita perokok dan peminum mendadak berubah drastis ketika suatu malam menghadiri sebuah KKR. Di kemudian hari ia menjadi wanita yang lembut dan rajin beribadah. Seorang pemuda pembunuh dijatuhi hukuman mati. Pada awalnya ia sangat buas dan sangar, tetapi suatu malam ia menangis tersedu-sedu bagitu menemukan Juruselamatnya. Esoknya ia terlihat bersikap baik dan penuh senyum.
            
Ketiga orang itu hanyalah sedikit contoh dari orang-orang pendosa yang kemudian “ditangkap” Tuhan dan diselamatkan dari kehidupannya yang penuh dosa. Hidup mereka berubah, sikap mereka berubah dan pandangan mereka akan kehidupan juga berubah. Semua ini terjadi karena mereka telah bertemu dengan Yesus, Juruselamat mereka. Hidup yang semula tampak kelabu, suram dan tampak tak ada harapan, tiba-tiba berubah cerah dan penuh warna. Mereka memang hidup, tetapi hidup mereka tak bisa dinikmati. Namun setelah Yesus masuk dalam hati mereka, membersihkan dosa-dosa mereka dan menyucikan mereka, semuanya tampak menjadi berbeda. Memang, Yesus ‘bikin hidup lebih hidup!
            
Ini bukan propaganda iklan rokok, karena benda ini tak bisa membuat hidup lebih hidup. Ini juga bukan untuk benda atau kenikmatan di atas muka bumi ini yang tampaknya membuat hidup menjadi lebih cerah dan penuh gairah. Tak ada! Tak ada satu hal pun dalam dunia kita ini yang menjanjikan harapan tentang hari depan kepada kita.
            
Hanya Yesus, tak ada yang lain, yang membawa kita pada keselamatan (Kisah Para Rasul 4:12). Tak ada pribadi yang bisa mengangkat dosa-dosa kita selain Dia. Tak ada sesuatupun yang mampu merubah warna merah hitam hati kita menjadi putih bersih. Tak ada lembaga asuransi manapun yang bisa menjamin keselamatan jiwa kita dari api hukuman kekal, selain janji Firman Allah. Tak ada sukacita dunia yang bisa membuat kita merasa bahagia dan damai selain sukacita sorgawi yang dianugerahkan Allah kepada kita. Singkatnya, hidup kita tak menjadi lebih hidup hanya karena kenikmatan, kesenangan dan kemewahan dunia ini.
            
Kita bisa lihat bukan, tidak sedikit orang berduit, punya jabatan, terkenal dan digandrungi banyak orang, yang stres, depresi, terlibat narkoba dan akhirnya mati sia-sia. Lebih mengenaskan lagi bila yang mengalami itu orang yang miskin, tak berduit, hidup susah dan pengangguran.
            
Oleh sebab itu, seharusnya kita bersyukur, kita memiliki sumber sukacita, sumber berkat dan sumber pengharapan: Yesus Kristus. Kalau Anda belum memilikinya, saya kuatir Anda belum benar-benar memiliki Yesus dalam hidup Anda. Apapun masalah kita dan bagaimanapun keadaan dunia ini, kita seharusnya tidak perlu takut dan kuatir. Sebab Yesus bikin hidup lebih hidup. Anda harus yakin itu!! (YD-02/03)

ASYIKNYA RAME-RAME


Seekor semut menemukan secuil roti. Baginya itu merupakan berkat yang luar biasa dari Tuhan. Ia ingin segera menyantapnya, tetapi ia ingat kawan-kawannya di rumah. Ia pun berusaha membawanya pulang. Namun roti itu terlalu besar dan berat baginya. Berkali-kali ia mencoba mengangkatnya, tetap saja roti itu tidak bergerak dari tempatnya. Si semut berlari ke sana-kemari untuk memanggil teman-temannya. Tidak lama kemudian telah terkumpul beberapa semut di sekeliling roti itu. Dengan bersemangat dan penuh kekompakan, mereka mulai mengotong roti itu. Beban yang semula terasa berat bagi seekor semut, sekarang menjadi terasa ringan, karena dibawa bersama-sama.
            
Melakukan sebuah pekerjaan yang berat, memang tidak mungkin diselesaikan seorang diri. Kehadiran teman sangat dibutuhkan untuk membantu meringankannya. Itulah sebabnya manusia dijuluki mahkluk sosial, mahkluk yang berinteraksi dengan sesamanya. Tak ada manusia yang bisa hidup seorang diri. Sekuat apapun dia, pasti membutuhkan kehadiran orang lain.
            
Dalam gereja pun dituntut kebersamaan. Itu sebabnya ada perintah kasihilah sesamamu manusia (Mat 22:39). Dan ada nasihat bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu (Gal 6:2). Melaksanakan amanat agung Yesus Kristus, yaitu memberitakan Injil, mengajar dan memuridkan juga dituntut sebuah kebersamaan. Ada orang yang bisa menginjil, tetapi tidak bisa mengajar, maka ia membutuhkan seseorang yang bisa mengajar, dan sebaliknya. Kalau sekarang, ada orang yang bisa berkhotbah, tetapi ia tidak bisa memimpin pujian, maka ia butuh seorang pemimpin pujian. Pekerjaan Tuhan tidak bisa dilakukan seorang diri. Kita butuh orang lain untuk membantu kita. Itu sebabnya seirng orang menyebut, melayani Tuhan itu bukan ‘single fighter’ tetapi sebuah’team’.
            
Coba Anda bayangkan jika Anda memimpin sebuah gereja dan Anda harus mengajar sekolah minggu, memimpin kaum muda, memimpin pujian, berkhotbah dan menjalankan kolekte sendiri, kira-kira apa yang terjadi? Anda pasti segera kehabisan tenaga. Anda akan lelah dan frustasi melayani Tuhan. Musa pernah mengalami hal ini. Ia memimpin bangsa Israel yang begitu banyak jumlahnya seorang diri. Sampai akhirnya, mertuanya menyarankan ia untuk membuat sebuah team pelayanan (Kel 18:13-26).
            
Sebuah team harus saling mengasihi. Sebuah team harus  saling berbagi. Sebuah team harus membuang keegoisan masing-masing. Sebuah team harus mengutamakan kepentingan bersama, bukan mencari keuntungan diri sendiri. Sebuah team harus tahu tempatnya masing-masing. Sebuah team harus dengan satu tujuan. Sebuah team harus saling toleransi, saling memaafkan, saling mendoakan dan saling menguatkan. Seperti sapu yang terkumpul dari banyak lidi, ia akan efektif untuk menyapu. Sebuah pelayanan yang terdiri dari banyak orang dengan kemampuan yang berbeda akan lebih efektif dalam menyelesaikan misi Tuhan di bumi ini.
            
Ketika kebersamaan dalam sebuah pelayanan telah tersusun rapi dan harmonis, kita akan berkata: melayani Tuhan asyiknya rame-rame.  yoed's

TIDAK MAU KE SORGA


Orang yang mempelajari sejarah masuknya orang-orang Spanyol ke Benua Amerika pasti akan mengenal Hernando Cortez. Ia adalah pemimpin pasukan Spanyol yang membawa banyak kemenangan ke mana saja ia pergi. Bahkan ia berhasil memperluas pengaruh kerajaan Spanyol di Benua Amerika.
                
Selama pendudukan Cortez di daerah Mexico pada awal tahun 1500-an, ada seorang pemimpin oposisi yang tertangkap, namanya Hatnay. Ia dijatuhi hukuman yang sangat berat, yaitu dibakar hidup-hidup.
                
Pada saat Hatnay diikat pada tiang pancang dan siap untuk dibakar, Hernando Cortez membujuk Hatnay untuk bertobat dan menjadi orang Kristen, supaya bila ia mati jiwanya bisa masuk ke sorga.
                
Hatnay menjawab dengan sebuah pertanyaan: “Apakah engkau kalau mati juga ingin masuk ke tempat yang disebut sorga itu?”
               
“Ya, tentu,” jawab Cortez “bukan hanya aku, tetapi juga seluruh anak buahku akan masuk ke sorga nanti setelah kami mati.”
                
Mendengar jawaban itu, Hatnay segera berkata: “Ah, kalau demikian, lebih baik aku tidak usah jadi Kristen saja, sebab aku sama sekali tidak mau pergi ke tempat di mana aku akan berjumpa kembali dengan orang-orang yang sangat kejam seperti kalian!”
                
Bukankah kita sering menjumpai orang-orang Kristen (mungkin kita juga) yang hidupnya tidak menunjukkan Kristus ada dalam hatinya? Mereka tidak memiliki kesaksian hidup walaupun mereka mengaku telah bertobat, hidup baru, rajin ke gereja, dibaptis Roh Kudus atau penuh dengan Roh Kudus. Bukan setiap orang yang mengaku Kristen yang akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa di Sorga (Mat 7:21).
                
Jadi, mengapa kita tidak menjadi teladan mulai hari ini, bukan hanya dalam perkataan saja, tetapi dalam seluruh segi kehidupan kita. Selamat Mencoba! - (yoed’s)

MENGAPA MESTI BERTENGKAR?


Dalam sebuah rapat pengurus gereja yang membahas program gereja setahun mendatang dan pembentukan pengurus baru. Pertemuan itu bertujuan untuk mencapai mufakat dan keputusan bulat demi terlaksananya sebuah program gereja yang lebih baik. Pertemuan yang mulanya berjalan lancar dan baik penuh kekeluargaan, lama kelamaan menjadi terasa panas karena adanya perbedaan pendapat. Dan keadaan itu menjadi semakin buruk ketika beberapa majelis bersi-tegang. Seorang majelis bahkan meninggalkan ruang pertemuan itu setelah sebelumnya menggebrak meja dengan marah.
            Pertanyaannya sekarang, mengapa mesti bertengkar? Mengapa mesti perang urat syaraf atau adu otot bila terjadi perbedaan pendapat? Apakah tidak ada lagi ungkapan ‘berkepala dingin’ meskipun hati panas? Apakah gereja akan menjadi semakin maju dan berkembang? Bukankah pertengkaran dan perkelahian justru merusak persatuan yang sangat dibutuhkan dalam membangun sebuah komunitas yang kuat?
            Tuhan Yesus pernah berkata kepada para Farisi ketika Ia dituduh mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, bahwa sebuah kerajaan tidak akan kokoh bila di dalamnya terjadi perpecahan. Ya, memang itu benar! Gerejapun tidak akan kuat bila jemaatnya terpecah-pecah menjadi kelompok-kelompok. Keadaan ini akan menjadi semakin buruk bila ternyata itu dipromotori oleh para pemimpin gereja itu sendiri. Sebagian mulai berkata aku kelompok si A, yang lain berkata aku kelompok si B, yang lain lagi berkata aku kelompok Tuhan Yesus. Benarkah Tuhan Yesus menghendaki perpecahan?
            Perhatikan kedua belas rasul yang dipilih Tuhan. Perhatikan dengan seksama latar belakang mereka sebelum menjadi murid Yesus. Ada pemuda nelayan, ada pemuda biasa, ada orang Zelot dan ada pemungut cukai. Bayangkan bila itu terjadi sekarang. Dalam sebuah kelas ada tiga golongan yang saling bermusuhan. Kaum jelata benci kepada pemungut cukai yang sering memeras mereka, mereka juga benci kepada orang Zelot yang sering melakukan demonstrasi (maksudnya: pemberontakan), dan orang Zelot pun memusuhi pemungut cukai yang sering menimbulkan kesengsaraan pada rakyat. Bukankah kelompok kecil yang dipimpin Yesus ini rawan konflik? Tetapi nyatanya tidak demikian.
            Kedua belas murid itu bisa berjalan bersama-sama, bekerja bersama-sama, makan bersama-sama dan tidur bersama-sama dengan gurunya. Walaupun akhirnya Yudas Iskariot harus meninggalkan mereka, tetapi paling tidak Yudas pernah sedikit berjasa mengatur keuangan dan konsumsi mereka selama tiga tahun.
            Kita ini hanya alat di tangan Tuhan. Tuhan yang berhak menentukan kita dipakai atau tidak. Kita tidak boleh merasa memiliki kepentingan untuk keberhasilan dan kemegahan gereja di mana kita beribadah. Tuhan berkenan, maka Ia akan meninggikan kita, tetapi bila Ia tidak berkenan, maka Ia akan merendahkan kita. Seberapa kerasnya kita berusaha, itu tidak akan berhasil.
            Mengapa kita mesti bertengkar? Mengapa kita mesti bersi-tegang bila apa yang kita lakukan ini adalah untuk Tuhan. Berkenankah Tuhan pada pelayanan kita bila Ia menjumpai anak-anak-Nya saling membenci? Berkenankah Ia bila menjumpai para pelayan-Nya saling memendam rasa tidak suka satu sama lain?
            Camkan ini! Kita tidak melayani manusia. Kita melayani Allah. Pelayanan yang kita lakukan berdasarkan ketulusan hati dan kasih yang mendalam. Yesus mengatakan bila kita tidak bisa saling mengasihi, maka kasih Allah tidak ada di dalam kita. Sebab bila kita tidak bisa mengasihi sesama kita yang kelihatan, bagaimana mungkin kita berkata mengasihi Allah yang tidak kelihatan? (bd 1 Yoh 4:20)
            Jadi, bila kita telah menyadarinya, masihkah kita ingin bertengkar? Masihkah kita akan saling bermusuhan dan saling menyalahkan? Bukankah seharusnya kita saling membantu, bahu-membahu mengerjakan pekerjaan Tuhan dan membangun kerajaan-Nya di atas muka bumi ini? yoed's

PILIH YESUS ATAU DUNIA?


        
Dalam sistem penjara komunis, terdapat kamp-kamp kerja paksa yang berat. Para tahanan harus bekerja selama 10 jam, kadang 16 jam dalam satu hari. Tidak ada Hari Minggu, tidak ada libur, tidak ada Natal atau Paskah. Tidak sesuatu apapun yang menyenangkan, kecuali bekerja, bekerja dan bekerja. Hampir tidak ada makanan bagi para pekerja itu dan mereka selalu dipukuli, sehingga telah banyak orang yang mati.
            Di tempat itu, orang-orang percaya terutama para pendeta diperlakukan lebih kejam dari tahanan yang lain. Seorang hamba Tuhan yang masih sangat muda ditanya oleh komandan pasukan setelah ia dipukuli, “Kamu masih percaya Allah? Kamu masih percaya Yesus? Namun Ia tak segera menjawab. Ia terdiam sejenak. Ia tahu keputusan apa yang harus ia ambil. Ia tahu keputusan itu akan menentukan hidup atau matinya kemudian. Tetapi ia juga tahu Yesus telah berkata, “Seetiap orang yang mengakui aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapaku yang di sorga. Tetapi barangsiapa menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di sorga.”
            Wajah pendeta muda itu mulai bersinar dan dengan suara yang penuh dengan kerendahan hati tetapi penuh keyakinan, ia berkata, “Komandan, waktu saya menjadi orang Kristen dan terlebih setelah saya menjadi pelayan Tuhan, saya tahu apa yang akan saya alami. Saya tahu bahwa sepanjang sejarah gereja, ribuan orang Kristen, para rasul, penginjil dan pendeta telah dibunuh dengan siksaan. Saya tahu siapa saya dan saya telah memutuskan untuk tetap setia dengan iman saya, yaitu panggilan saya sebagai hamba Tuhan apapun yang terjadi. Kebenaran tidak akan pernah takut. Kami memiliki kebenaran bahwa hanya ada satu Allah dan Dia adalah Bapa kami yang penuh kasih. Kami memiliki kebenarana bahwa Yesus adalah Juruselamat dunia yang telah menebus dosa manusia dan ingin terus menyelamatkan semua manusia termasuk Anda!”
            Matius 10:16-33 memberi gambaran ketika Yesus mengutus murid-murid-Nya, Dia berpesan kepada mereka bahwa mereka diutus untuk memberitakan keselamatan yang dari Allah ke tengah dunia yang jahat, sama seperti seekor domba di tengah kawanan serigala yang setiap saat dapat memangsanya. Itu artinya, siapa saja yang percaya kepada Yesus, termasuk saya dan Saudara, akan menghadapi banyak bahaya untuk mempertahankan iman kita dan setiap saat kita harus siap sedia untuk memikul salib dan menyangkal diri demi Yesus. Bisa jadi suatu saat kita akan diperhadapkan pada pilihan: hidup atau mati. Bisa jadi suatu saat kita diperhadapkan dengan satu pertanyaan: “Pilih menyangkal Yesus atau disiksa?”
            Seperti Yesus sendiri telah menyangkal diri dan menyerahkan hidup-Nya bagi kita. Dengan setia Ia telah menanggung dosa kita dan membiarkan diri-Nya disiksa dan dihukum mati, sudah sepatutnya kita pun berlaku setia kepada-Nya dan tetap memegang teguh iman kita kepada-Nya. Seperti mereka yang telah mati sebagai martir tidak pernah memikirkan keselamatan dan kesenangan diri mereka sendiri, melainkan telah menyangkal diri dan tetap memilih Yesus sekalipun itu harus dibayar dengan nyawa mereka. Semua ini harus mulai tertanam dalam hati dan pikiran kita sejak hari ini, bahwa apapun yang terjadi, Yesus tidak dapat kita tukar dengan apapun. Setia kepada-Nya, berarti mempertahankan-Nya di setiap keadaan dalam dunia ini. Bisa saja kita kehilangan nyawa kita, tetapi Yesus berjanji bahwa kita akan mendapatkannya lagi.
            Hanya saja banyak di antara kita yang bertanya, “Apakah saya bisa tahan?” Bisa! Saudara dan saya bisa tahan! Dan itu bukan karena kekuatan kita, melainkan kekuatan dari Roh Kudus yang diam di dalam diri kita. Tuhan Yesus berpesan bahwa bila penderitaan itu tiba jangan pikirkan pembelaanmu! Jangan pikirkan apa yang akan kita katakan nanti sebab itu akan dikaruniakan Tuhan pada saat itu juga. William Booth pernah berkata kepada anak-anaknya, ketika mereka menghadapi penganiayaan tentara Hitler, bahwa obat hanya diberikan oleh dokter pada waktu orang menderita sakit dan bukan pada waktu dia sehat. Kekuatan dan penghiburan Tuhan diberikan ketika kita mengalami penderitaan dan kelemahan bukan ketika kita kuat dan keadaan baik-baik saja.
            Saudara dan saya bisa saja tahan menghadapi penganiayaan fisik yang mungkin akan datang menimpa kita suatu hari nanti. Tetapi apakah kita akan memilih Yesus atau memilih untuk menyelamatkan nyawa kita sendiri dan menyangkal Dia? Kita dapat membuktikannya saat ini!! Ketika tiba-tiba di jalan kita ditanya, “Apakah Anda orang Kristen?” Apa jawaban kita? Ketika orang Kristen tidak diijinkan naik pangkat, naik jabatan, dipersulit  mengurus ini dan itu. Apa tindakan kita? Mengganti KTP kita dengan agama non-Kristen? Dalam bentuk lain, beranikah kita berdoa sebelum makan ketika kita berada di tengah orang banyak? Beranikah kita menolak ajakan teman untuk melakukan tindakan amoral, free-sex, selingkuh, penyalahgunaan obat terlarang, memanipulasi uang perusahaan, dan berbagai tindakan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan? Bila itu saja tidak mampu kita lakukan, bagaimana kita bisa tahan bila kita diperhadapkan dengan siksaan yang lebih berat?! Pikirkan dan renungkanlah ini sekarang!!*** yoed's

Kesetiaan yang sesungguhnya akan terbukti,
ketika kita diperhadapkan pada pilihan hidup atau mati

JANGAN REBUT MAHKOTAKU!


Sekali waktu ada seorang hamba Tuhan yang diberi penglihatan seperti berikut: Ketika seorang pendeta sedang memimpin penyembahan dalam suatu ibadah di sebuah gereja, tiba-tiba datang seorang malaikat Tuhan yang membawa sebuah mahkota yang indah dengan bertatahkan berlian beraneka jenis dan warna. Sang pendeta tersenyum melihat malaikat itu, ia yakin mahkota yang dibawa malaikat itu pasti akan diberikan untuknya. Tetapi di luar dugaan, malaikat itu melewati sang pendeta begitu saja dan terus berjalan ke bagian belakang barisan para jemaat yang sedang berdoa. Malaikat itu berhenti di depan seorang wanita tua yang duduk di bangku paling belakang dan mengenakan mahkota yang indah itu di atas kepala wanita tua tersebut.
            Sang pendeta pun protes, “Hai, malaikat! Anda pasti sudah salah alamat! Dia hanya seorang nenek-nenek tua yang tidak berguna yang selalu mendapatkan santunan dari diakonia gereja. Tetapi saya telah banyak bekerja untuk Tuhan. Saya sudah banyak berkhotbah dan menginjil, saya sudah banyak mendirikan yayasan Kristen, membuat ini membuat itu untuk kemuliaan nama Tuhan. Tetapi kenapa dia yang justru menerima mahkota itu!”
            Malaikat utusan Tuhan itu dengan tersenyum bertanya,”Dan tahukah Anda, siapa yang sudah berperan untuk keber-hasilan KKR Anda? Siapa yang sudah berperan membuat semua pelayanan dan proyek-proyek Anda maju? Siapa yang telah berperan agar Anda terhindar dari skandal perzinahan?” Sang pendeta menggeleng. “Dialah orangnya,” lanjut malaikat sambil menunjuk wanita tua itu.
            Sahabat, barangkali kita terlalu menganggap remeh peran seseorang yang kita anggap tidak berguna dan kecil di dalam gereja. Atau barangkali juga kita menganggap diri kita terlalu rendah dan tidak berguna di hadapan Tuhan, karena kita tidak dapat  berkhotbah, memimpin pujian, bermain musik, menjadi majelis, diaken, pekerja atau aktivis gereja. Tetapi ketahuilah bahwa kita adalah anggota tubuh Kristus. Sekecil apapun, kita memiliki peran dalam pembangunan tubuh-Nya. Sekecil apapun kita menjadi sangat berguna di tangan Kristus.
            Bayangkan jika dalam sebuah gereja atau persekutuan orang percaya hanya berisi para pendeta saja, atau para penginjil saja, atau para diaken saja dan tidak ada seorang jemaat pun! Semua ingin berkhotbah, semua ingin memimpin, tidak ada yang berdoa dan tidak ada yang mendengarkan.
            Saya katakan sekali lagi, sekecil apapun kita, memiliki peran dalam pembangunan tubuh Kristus. Sekecil apapun tugas yang dipercayakan Tuhan kepada kita, bila kita setia mengerjakannya, maka Allah telah menyediakan mahkota bagi kita. Keindahan dan kebesaran kita di hadapan   Allah bukan tergantung seberapa pintarnya kita atau seberapa fasihnya kita mem-beritakan firman-Nya. Mahkota kehidupan yang disediakan bgi kita pun tidak ditentukan oleh itu, melainkan oleh kesetiaan kita (Wah 2:10). Kesetiaan kita mengiring Tuhan hingga akhir hayat kita, kesetiaan kita dalam perkara kecil yang dipercayakan Allah kepada kita, kesetiaan kita mentaati dan melakukan firman-Nya dan kesetiaan kita menanggung berbagai pencobaan.
            Bila itu kita lakukan, maka kita berhak untuk menerima mahkota yang telah disediakan-Nya.  Tetapi kita juga harus tahu bahwa mahkota yang sedianya diberikan kepada kita bisa saja diberikan kepada orang lain. Perhatikan peringatan ini: “Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu.” (Wah 3:11).
            Jadi, jangan biarkan orang lain merebut mahkotamu karena engkau malas, karena engkau bodoh, karena engkau sombong, karena engkau hidup sembrono, karena engkau tidak setia!*** yoeds

Orang yang setia adalah orang yang tetap bertahan dengan imannya sekalipun keadaan di sekelilingya tampak tidak menguntungkan

GENERASI TANPA AYAH


Alice berpacaran dengan Ben selama beberapa tahun. Ben berjanji akan meminangnya awal pada hari ulang tahunnya. Percaya akan janji itu Alice melangkah terlalu jauh. Dia terlalu intim sehingga ia hamil. Sesudah itu Ben menghilang entah kemana. Alice melalui hari-harinya dengan penuh penderitaan, sampai akhirnya lahirlah seorang bayi mungil tanpa ayah.
                Sam dan Vivi berpacaran sejak mereka berdua masih di sekolah Alkitab dulu. Mereka menikah baik-baik dan telah dikaruniai dua orang anak, Riko dan Amanda. Tetapi berhubung Sam sekarang telah menjadi ‘pendeta besar’ maka Sam menjadi terlalu sibuk pelayanan sehingga tidak pernah punya waktu untuk Riko dan Amanda. Setiap kali anaknya mengajaknya berlibur, Sam selalu memiliki alasan pelayanan. Riko dan Amanda memang memiliki ayah, tetapi sebenarnya mereka telah kehilangan dia.
                Ini hanya sebagian kecil dari realita kehidupan ini. Kita masih dapat menyaksikan banyak kasus lain di sekitar kita yang mirip dengan kasus di atas. Pergaulan bebas telah merusak pandangan anak muda tentang seks dan perkawinan. Tak ada penghormatan terhadap Allah yang menciptakan lembaga perkawinan itu. Seks hanya digunakan untuk bersenang-senang dan memuaskan diri sendiri, bukan untuk memuliakan Allah. Itu sebabnya sering kita jumpai anak-anak gadis yang hamil di luar nikah. Masih beruntung bila pemuda kekasihnya mau menikahinya, tetapi bila tidak  mereka akhirnya memilih jalan aborsi sebagai jalan keluarnya, atau bila tidak mereka akan melahirkan genari tanpa ayah.
                Begitu pula dengan keluarga-keluarga yang hidup di tengah dunia yang glamour dan sarat dengan pandangan materialisme dan konsumerisme ini. Ayah sibuk bekerja, bisnis, pelayanan dengan dalih untuk membahagiakan anak. Memang hakekat seorang ayah itu adalah pekerja. Sejak manusia pertama, yang dibebani untuk bekerja menanggung keluarga adalah seorang ayah, sebagai kepala keluarga. Tetapi bila kerja terlalu berlebihan, maka kerja itu tidak mendatangkan berkat. Bekerja bukan berarti harus melupakan keluarga, istri dan anak-anak. Uang memang dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, tetapi kehadiran seorang ayah di rumah bagi anak-anak itu sangat dibutuhkan. Kesibukan kerja atau pelayanan tak seharusnya menjadikan seorang ayah mengabaikan anak-anaknya.
                Kehadiran seorang ibu saja bagi anak-anak belumlah cukup. Tanpa ayah di rumah terasa ada yang kurang dan keluarga pasti akan menjadi timpang. Uang dan barang tak dapat menggantikan sosok seorang ayah. Anak butuh kehadiran seorang ayah untuk dijadikan figur yang mereka kagumi, mereka hormati dan mereka teladani. Dan seorang ayah seharusnya dapat menjadi tempat berbagi rasa sejak anak-anak masih kecil. Anak akan merasa senang bila ayahnya mau mengajaknya jalan-jalan di pagi hari, bermain bersama, membacakan cerita menjelang tidur dan mengajaknya berdoa sebelum makan. Anak akan merasa senang bila ayahnya bisa membetulkan mainannya, menggendongnya dan menciumnya sebelum mereka berangkat sekolah. Dan rasa senang seperti itu tak dapat digantikan oleh uang atau barang.
                Jangan heran bila suatu hari Anda menemukan di kantong baju anak Anda sebatang rokok, sebungkus heroin dan beberapa butir pil koplo. Jangan heran bila suatu hari anak Anda mulai berani membantah dan membentak Anda. Dia tidak lagi seperti bayi mungil yang lucu. Dia tak lagi seperti kanak-kanak yang gampang diatur. Mereka berbuat begitu karena tidak ada sosok seorang ayah yang dapat mereka teladani. Seorang ayah yang berwibawa, tetapi bukan pemarah. Seorang ayah yang sayang, tetapi bukan yang hanya bisa memberi uang.
                Itulah sebabnya, anak-anak muda yang hidup di dalam Tuhan harus berhati-hati memilih pasangan hidup. Jangan sembrono, berpacaranlah sesuai firman Tuhan dan lakukanlah semua itu bukan untuk kesenangan daging, tetapi untuk kemuliaan Tuhan. Dan kepala-kepala rumah tangga Kristen, jangan gantikan kedudukanmu di rumah dengan uang atau barang! Bila kita ingin menciptakan generasi yang baik, jangan ciptakan generasi tanpa ayah! (yoed's)

SUDAH SIAPKAH ANDA?


Pernahkah Saudara berpikir besok pagi terjadi Perang Dunia III? Pernahkah Saudara membayangkan nanti malam Tuhan Yesus datang? Pernahkah terlintas di benak Saudara satu jam mendatang malaikat Tuhan menjemput nyawa Saudara? Dan inti pertanyaannya: “Sudah siapkah Saudara?”
            Seorang teman saya pernah menuliskan di buku harian saya ketika saya masih  SMA dulu, “Bekerjalah dengan giat seolah-olah kamu masih akan hidup 1000 tahun lagi, berbaktilah kepada Tuhanmu seolah-olah besok hari kiamat.”
            Kalimat itu ditulis oleh seorang yang bukan anak Tuhan, tetapi bagi saya kalimat itu sangat bagus. Saya sering menggantinya dengan bahasa saya sendiri, “Berbuat baktilah kepada Allah dan lakukanlah firman-Nya dengan takut dan gentar, seakan-akan Yesus akan datang satu jam mendatang.”
            Dengan mempersenjatai diri kita dengan kesiapan seperti ini, kita tidak perlu takut kapanpun Yesus datang dan kapanpun kita dipanggil Tuhan. Kita tidak perlu takut seandainya perang yang tengah terjadi di Afganistan akan memicu Perang Dunia III seperti yang dikuatirkan kebanyakan orang. Kita tidak perlu takut bila tiba-tiba matahari runtuk menimpa bumi dan kehidupan di muka bumi berakhir. Kita tidak perlu takut bila Yesus datang tiba-tiba seperti pencuri yang datang tiada terduga. Dan kita tidak perlu takut bila kita terbangun di pagi hari tetapi sudah di alam yang berbeda (dunia roh). Bukankah memang seharusnya kita tidak perlu takut menghadapi segala kemungkinan yang dapat terjadi di dunia ini?
            Kita tidak perlu mempersiapkan diri dengan segudang kekayaan. Kita tidak perlu mempersiapkan diri dengan deposito yang banyak atau asuransi keselamatan jiwa. Kita tidak perlu mempersiapkan diri dengan tubuh yang sehat. Yang kita butuhkan adalah roh yang siap sedia. Roh yang selalu terjaga dan tidak tertidur karena daging kita sedang mabuk kenikmatan dunia ini. Kita hanya butuh jiwa yang selalu menanti-nantikan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan kita. Dan itu dapat terjadi bila kita selalu berjalan dan hidup dalam kebenaran Firman Tuhan serta kehendak-Nya.
            Biarkan pelita kita terus menyala ketika kita sedang menunggu kedatangan mempelai Kristus. Seperti perumpamaan yang disampaikan Tuhan Yesus tentang lima gadis yang bijaksana (Mat 25:1-13), maka setiap orang percaya harus berbuat demikian. Pelita kita jangan sampai kehabisan minyak, jangan biarkan redup apalagi sampai padam. Itulah sebabnya Rasul Paulus juga memberi peringatan: Biarlah rohmu menyala-nyala... (Roma 12:11). Terus kobarkan apimu. Mungkin saat ini masih kecil, tetapi api yang kecil itu dapat menjadi besar dan membakar seisi hutan. Dan berbahagialah bila api Saudara tetap menyala sampai mempelai Kristus datang menjemput Saudara.
            Masalahnya adalah, banyak hal yang dapat membuat api itu redup dan padam. Kesenangan-kesenangan duniawi: kemewahan, kedudukan, uang, moralitas yang rendah, dan berbagai kenikmatan dunia yang menajiskan jiwa kita.
            Seperti erosi rohani yang terjadi atas hidup kita tanpa terasa, kemurtadan terjadi tanpa kita sadari. Ketika pertama kali Saudara tidak ke gereja, Saudara dapat berkata, masih ada minggu depan, tetapi sesudah beberapa bulan Saudara baru menyadarinya dan gairah Saudara untuk melangkahkan kaki menuju persekutuan orang percaya itu mulai menurun. Atau barangkali, Saudara melakukan satu kesalahan. Pertama kali Saudara melakukannya, Saudara merasa sangat berdosa dan terus menerus tertuduh. Tetapi setelah melakukan beberapa kali, hati Saudara akan diam saja. Tak ada lagi rasa bersalah. Tak ada lagi penyesalan. Dan Saudara pun melangkah dengan damai di atas jalan yang menuju maut.
            Satu kali, ketika Saudara menoleh ke belakang, Saudara baru menyadari bahwa Saudara telah berjalan terlalu jauh dari jalan yang seharusnya Saudara tempuh: Jalan Kebenaran dan Hidup. Bersyukur bila Tuhan masih memberi kesempatan Saudara memperbaiki diri. Bersyukur kalau Tuhan masih memberi kesempatan kedua kepada Saudara. Bersyukur bila Tuhan hanya menegur dan memaksa Saudara untuk kembali melalui jalan sakit, kecelakaan dan kebangkrutan! Bersyukur bila Tuhan tidak membiarkan maut merenggut Saudara sebelum Saudara memperbaiki diri!
            Oleh sebab itu, Saudara. Selagi masih ada ‘hari ini.’ Selagi masih ada kesempatan.  Dan selagi Tuhan bersabar: Mari benahi diri. Mari hidup baik-baik sesuai dengan kehendak Tuhan. Mari gunakan waktu yang ada untuk melakukan firman Tuhan sebab hari-hari ini adalah jahat (Efesus 5:16). Jangan hidup dalam kebodohan: Jaga tingkah laku dan bicara kita agar tidak mendatangkan akar pahit bagi orang lain. Jaga hati dan pikiran kita agar tetap bersih di hadapan Allah. Jaga hidup kita agar selalu berkenan di pemandangan mata Tuhan.
            Bila kita yakin bahwa kita hidup di jalan Allah, hidup mentaati firman-Nya dan seturut kehendak-Nya, maka tanpa ragu kita bisa berkata: SAYA SUDAH SIAP! Siap untuk menyambut kedatangan Tuhan Yesus yang tidak terduga. Siap untuk menghadapi  kematian yang bisa menjemput kapan saja. Siap untuk menghadapi segala kemungkinan  yang dapat terjadi atas kehidupan kita setiap saat. Dan kita dapat berkata seperti Rasul Yohanes: “Amin, Datanglah Tuhan Yesus!” (Why 22:20).***yoed’s

PROGRAM MENTORING TEROBOSAN PELAYANAN ANAK

Saya melayani di sebuah gereja di Serpong, Tangerang Selatan. Di gereja ini saya menjadi guru sekolah minggu sampai hari ini. Tahun 2014 saya diminta menjadi wakil dan sekaligus pembina dan tim kreatif. Waktu itu jumlah anak Sekolah Minggu kami hanya sekitar 300an. Puji Tuhan dengan berbagai perubahan dan terobosan baik pribadi guru dan model ibadahnya, tahun 2018 jumlah keseluruhan sekolah minggu di gereja kami mencapai 1400an anak mulai dari umur 1th sampai kelas 6 SD dengan 5 kali ibadah setiap minggu.

Terobosan di bidang pelayanan anak ini tidak terjadi begitu saja, butuh kerja keras, teamrowk yang solid dan dukungan dari pihak penggembalaan serta kreatifitas yang asyik dan menarik di setiap ibadah anak. Perlu acara-acara spesial yang membuat anak bergairah datang ke sekolah minggu/ibadah anak.

Nah, saya rindu gereja Anda juga mengalami penuaian anak-anak. untuk itu saya ingin berbagi kiat untuk mengalami terobosan di bidang pelayanan anak ini. Program mentoring mencakup pembinaan guru, mempersiapkan acara spesial dan berbagai property yang dibutuhkan, serta metode dan sarana yang menunjang terjadinya perubahan dan terobosan.

Bila gereja Anda berminat, silahkan hubungi :
via wa: 0817-690-7033
email: masyudipribadi@gmail.com






JASA PENULIS, LAY OUT, DESAIN COVER dan EDITOR BUKU

Kalau Anda bingung mau menerbitkan buku sendiri, tapi cuma bisa ngetik di ms words, saya siap membantu Anda dalam mendesain, melay-out dan mengedit karya Anda supaya lebih ciamik dan layak jual dengan bahasa standard penerbitan.

Dan bila Anda pemimpin sebuah organisasi, publik figur, pemimpin agama, pemimpin perusahaan atau seorang ayah yang berhasil dan ingin membukukan kisah kesuksesan Anda, namun tidak punya waktu menulis, saya siap membantu Anda mewujudkan karya Anda sebagai co-writer. Silahkan hubungi saya via hp/wa : 0817-690-7033

Berikut ini beberapa contoh buku yang pernah saya kerjakan: