AKU MENYAYANGIMU


Apakah Anda tahu bahwa kata-kata sayang yang Anda ucapkan untuk orang yang Anda kasihi, khususnya orang tua,  itu dapat membawa perubahan yang positif dalam hidupnya? Tetapi apakah Anda termasuk orang-orang yang sulit untuk mengungkapkan perasaan sayang Anda dengan kata-kata? Bila, ya, maka cerita dari seorang ibu ini mungkin dapat menggugah hati Anda untuk segera menyatakannya, sebelum Anda kehilangan kesempatan untuk selamanya.

Beberapa tahun yang lalu, suami saya, John, dan saya berencana mengundang ayahnya untuk tinggal bersama kami. Kami memiliki dua putra yang masih kecil, Brian (11) dan Jeffry (3). Kami menganggap kedatangan ayah John akan bermanfaat bagi mereka berdua. Akhirnya, kakek Sam menerima tawaran kami sehingga pada bulan September kami berangkat untuk menjemputnya. Tentu saja, kami telah mengadakan penyesuaian untuk hal ini. Ada yang mudah dan ada juga yang sulit. Namun karena kasih yang hadir di antara kami, semua mampu diatasi. Satu hal khusus yang selalu kami lakukan setiap malam, adalah saling mengucapkan bahwa kami saling mengasihi dan menyayangi. Rumah pertanian kami yang besar dan tua itupun akan terdengar sedikit riuh oleh ucapan “Selamat malam, aku menyayangimu” dari satu orang ke orang yang lain. Dengan senang hati, kami melibatkan Kakek Sam dalam kebiasaan ini.

Pada awalnya ini merupakan satu yang aneh baginya. Dengan alasan-alasan tertentu, kata-kata itu sangat sulit untuk dia ucapkan. Paling-paling beliau hanya mengucapkan “Selamat malam.” Seperti biasa saat Brian berada di sekolah, Jeff dan Kakek Sam bermain bersama. Dari situ suatu hubungan yang akrab dan dekat, mulai terjalin di antara mereka. Saya ingat ketika suatu hari saya ke ruang tamu dan melihat Kakek tengah duduk dengan kaku di kursi goyangnya. Setelah mengamati dari dekat, saya baru tahu mengapa Kakek begitu, ternyata Jeff telah mengikatnya lalu duduk di kakinya dan sambil menyeringai senang ia berkata, “Lihat, Bu. Kami sedang bermain polisi-polisian dan penjahat-penjahatan.” Namun saya tidak akan pernah melupakan suatu malam yang jauh lebih berkesan dari malam-malam sebelumnya. Seperti biasa, setelah saling mengucapkan “Selamat malam” dan ”Saya sayang Kakek,” Brian dan Jeff segera naik ke atas. Namun mereka turun lagi untuk mengucapkan kata-kata itu. Sesaat kemudian, kata-kata itu kembali terdengar sedemikian jelas, senyaring bunyi bel. Ternyata Kakeklah yang mengucapkannya. Kali ini beliau tidak hanya mengucapkan “Selamat malam” tetapi juga “Kakek sayang kalian.”

Hati saya berdebar keras. Kedua anak saya, Brian dan Jeff, telah berhasil menyentuh perasaan dan hatinya dengan kasih dan ia pun menanggapinya dengan kasih. Sejak itu, Kakek tak pernah tampak keberatan mengucapkan kata-kata itu dan seiring dengan berjalannya waktu, kami melihat kakek semakin mudah mengucapkannya. Ayah John tinggal bersama kami selama satu tahun. Selama itu kami semua telah menciptakan kedekatan yang hangat dan akrab dengan pria yang sangat kami sayangi itu. Sejenak saat mengenangnya, saya tersenyum dan sangat bersyukur atas kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh selama saat-saat yang istimewa dalam hidupnya itu. Setiap kali kami datang ke rumahnya, setiap kunjungan dan telepon kami selalu diakhiri dengan salam yang indah itu. Kakek Sam tutup usia pada pukul 04.30 pagi di Hari Minggu. Saat Wally menggenggam tangannya, kata-kata terakhir yang terucap untuk anak laki-lakinya itu adalah, “Aku menyayangimu.” (God's Vitamin C)

Mengapa Anda tidak segera menemui mama, papa, adik, kakak, suami, istri, kakek atau nenek dan mengatakan, “AKU MENYAYANGIMU?” Sekalipun pada awalnya terasa canggung, tetapi Anda akan segera merasakan betapa mesranya keluarga Allah ini...***(Yd)


EmoticonEmoticon