DALAM TAMPIAN PENCOBAAN

Ada saatnya orang percaya mengalami keadaan yang sulit dan membuat jiwa tertekan. Ada kalanya pencobaan melanda dan menghimpit kita sehingga kita tidak mampu berbuat apa-apa. Tetapi sesungguhnya pada saat itu iman kita sedang dipertaruhkan. Kita dituntut untuk tidak menyerah dan kalah terhadap pencobaan, tetapi bangkit, melawannya dan memenangkan pergumulan itu.
           
Ingatlah ketika Tuhan Yesus akan memulai pelayanan-Nya: Ia dicobai Iblis tiga kali. Pencobaan itu meliputi kebutuhan jasmani, kemegahan diri dan pusat penyembahan manusia. Manusia seringkali gagal bila diperhadapkan pada ketiga hal tersebut. Ketika kebutuhan jasmani menuntut, ketika rasa lapar melanda, ketika kebutuhan ekonomi mendesak, kita seringkali mencari jalan ‘alternatif’ yang menyimpang dari jalan Allah. Ketika iblis mengiming-imingi kita dengan kemegahan, keharuman nama dan kekayaan yang berlimpah, tidak sedikit dari kita yang menerimanya dan ‘teken kontrak’ dengan bapa pendusta itu.
            
Tetapi Yesus tidak! Yesus menggagalkan serangan iblis dengan firman Allah: “Ada tertulis....” Itu menunjukkan bahwa Yesus sangat paham dengan kehendak Allah. Ada tertulis: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4); Ada pula tertulis: “Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Matius 4:7); dan “Enyahlah Iblis! Sebab ada tertulis: engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti” (Matius 4:10). Ketika Yesus menghadapi kuasa roh-roh jahat, Ia mengalahkannya dengan Firman Allah.
            
Tuhan Yesus juga pernah berdoa untuk Petrus: Aku telah berdoa untuk engkau supaya imanmu jangan gugur (Lukas 22:32). Doa itu juga untuk Saya dan Saudara. Pada saat pencobaan datang, iman kita sedang ditampi. Ini akan menunjukkan apakah kita gandum yang berisi atau hanya sekam yang kosong dan gampang diterbangkan angin. Bila Saudara tidak yakin dengan iman Saudara, yakinlah pada satu hal:  bahwa Yesus telah berdoa untuk Saudara agar iman Saudara tidak gugur. Saudara dapat berkata kepada iblis: “Kau memang diberi izin untuk menampi aku, engkau berusaha untuk menghancurkan imanku, tetapi ketahuilah: Tuhan Yesus berdoa untukku.”
            
Iman Petrus diuji, digoncang-goncangkan, sebab ia tinggi hati, maka ia tergelincir. Tetapi doa Yesus, gurunya dikabulkan: akar-akar imannya tidak tersentuh. Oleh sebab itu ia masih bertahan hingga saat terakhir. Pada saat iblis merasa senang dan mulai tertawa, karena Petrus bersusah hati, pada saat itu Tuhan agaknya akan kehilangan seorang sahabat, tetapi hati Petrus mulai terharu karena pandangan Tuhannya. “Lalu berpalinglah Tuhan memandang Petrus.....lalu Petrus pergi keluar dan menangis dengan sedihnya” (Lukas 22:61,62). “Menangis dengan sedihnya” dalam bahasa Yunani sebetulnya dikatakan “Ia menjerit dengan suara nyaring” dan teringatlah Petrus bahwa Tuhan telah berkata kepadanya “Sebelum ayam berkokok pada hari ini, engkau telah tiga kali menyangkal Aku” (Lukas 22:61).
            
Saya membayangkan murid Tuhan ini, bagaimana ia menuju bukit-bukit Yehuda, lalu menjatuhkan diri ke atas tanah, dan merentangkan tangannya sambil berseru: “O, Bapa, sedikitpun tidak keliru kata-kata-Nya! Tetapi saya tidak mengindahkan peringatan-Nya. Ia telah memperingatkan saya, bahwa iblis akan mencoba menghancurkan iman saya. Saya sama sekali tidak siap sedia! Jangankan mati untuk Yesus terhadap seorang hamba perempuan saja, saya sudah takut! Ampuni saya! Saya mengasihi Yesus, kepada siapa saya harus berpaling?”
            
Saya kira bahwa imannya juga didasarkan atas apa yang dikatakan Yesus, yaitu: “Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Lukas 22:32). Entah berapa kali ia merenungkan kata-kata itu. Mungkin berulangkali ia berpikir “Benarkah Yesus berkata ‘insaf’, yang di sini berarti bertobat? Benarkah Ia berkata bahwa saya masih akan diberi tugas? Setelah hal yang memalukan ini, dapatkah saya menguatkan saudara-saudaraku?”
           
Tuhan Allah mengabulkan doa Putera-Nya. Saya dapat membayangkan tindakan Petrus selanjutnya, bagaimana ia bangkit berdiri, bagaimana Roh Kudus memenuhi dirinya, bagaimana ia mengangkat tangannya ke atas dan berseru: “Enyahlah iblis! Benar aku telah menyangkal Tuhanku. Benar aku telah meninggalkan-Nya, tetapi aku tetap mengasihi Dia. Ia telah berjanji bahwa aku akan bertobat dan menguatkan iman orang lain, bahkan akan menjadi batu karang. Sekarang aku kembali kepada saudara-saudaraku.
           
Petrus berada di antara murid-murid yang lain ketika Yesus menampakkan diri-Nya di tengah-tengah mereka. Ia bersama saudara-saudaranya, tatkala Yesus terangkat ke sorga dan mereka sujud menyembah kepada-Nya (Lukas 24:52). Bersama Yohanes, ia murid Tuhan yang pertama-tama bergegas pergi ke kubur-Nya setelah diberitahu bahwa Yesus telah bangkit. Petruslah yang bangkit berdiri pada hari Pentakosta untuk menyampaikan Firman Allah. Alangkah hebat khotbahnya sampai banyak orang bertobat dan dibaptis!
            
Dapat dipastikan bahwa akan ada banyak orang Kristen baru dan orang yang gagal akan bertanya-tanya pada kita, dari mana mereka akan beroleh kekuatan untuk menghadapi masa-masa sukar yang akan datang? Mereka akan mendapatkannya dari para saleh yang telah bertobat dan ditampi oleh iblis. Sebab para saleh ini dapat bersaksi dari pengalamannya sendiri.
            
Dalam kehidupan Saudara, apakah ada kalanya Saudara tertarik pada hal yang buruk? Apakah Saudara menghadapi kesukaran yang tidak terelakkan? Jika demikian, pusatkan perhatian Saudara pada kata-kata Yesus. Selanjutnya hendaklah Saudara ingat, bahwa mungkin iblis beroleh izin untuk menampi iman Saudara. Jangan remehkan hal ini! Saudara tidak perlu jatuh seperti Petrus. Lebih baik kita belajar dari pengalamannya. Tetapi bila Saudara telah jatuh atau gagal, bila Saudara telah mendukakan hati Yesus, arahkanlah pandangan Saudara kepada-Nya, sama seperti yang dilakukan Petrus dan ingatlah wajah-Nya sebelum Saudara berdoa. Bertobatlah. Kembalilah pada jalan-Nya yang selalu benar. Beritahukanlah pengalaman Saudara kepada Saudara seiman, terutama kepada mereka yang akan atau sedang mengalami penampian.

                                                                                     Saya berdoa kepada Tuhan, agar Ia memberi kata-kata penghiburan dan kata-kata yang menguatkan Saudara-saudara yang telah jatuh, seperti Yesus telah berdoa untuk Petrus. Saya rindu mengatakan kepada semua orang percaya yang menangis atau patah hati, gagal dan jatuh, tetapi yang mau bangun, penuh pengharapan dan iman: Bila masa penampian ini telah berlalu dan bila Saudara telah insaf, bila iman Saudara telah menjadi kuat, maka Tuhan akan memberi tugas lagi kepada Saudara, yaitu menguatkan Saudara-saudara yang lain yang mungkin akan mengalami pengalaman yang sama dengan Saudara. Saya sekali-kali tidak akan putus asa dengan mereka yang telah jatuh!***(Yd)


EmoticonEmoticon