APAKAH AKU PENJAGA ADIKKU?

Kejadian 4:9 "Firman TUHAN kepada Kain: "Di mana Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?"

Ketika terjadi tragedi Poso, ada 50.000 orang Kristen di Poso, yang dinamakan pasukan merah, sedang terkurung oleh pasukan putih. Mereka mengalami banyak tekanan dan penderitaan, sangat berbeda dengan yang diberitakan di media massa. Sementara itu di Tentena ada 10.000  orang Kristen yang diharapkan bisa menampung dan memberi bantuan kepada mereka bila mereka diijinkan keluar dari Poso.
            
Coba kita bayangkan, kira-kira mampukah mereka menyokong kehidupan orang yang 5 kali banyaknya tanpa dukungan saudara-saudara yang lain, tanpa dukungan anak Tuhan di daerah lain?
            
Lalu bisa peristiwa seperti itu terjadi lagi, dan kita diajak untuk terbeban, kira-kira apa jawaban kita? Maukah kita menanggungnya? Atau kita akan berkata seperti Kain “Apakah aku penjaga adikku?” ketika Tuhan menanyakan keberadaan Habel, adiknya.
            
Kalau kita jujur, bukankah kita sering bersikap seperti itu? Tidak usah jauh-jauh, pernahkah kita memperhatikan saat kita duduk di bangku gereja, saat kita mengikuti persekutuan, apakah orang yang duduk di sebelah kita, saat ini tidak hadir kembali bersama kita? Pernahkah kita memperhatikan bahwa orang yang satu ruangan dengan kita, makan siang bersama kita, main tenis bersama kita, saat ini sedang menghadapi persoalan berat?
            
Barangkali kita sering mengulang pernyataan Kain tadi:
“Apakah aku ini penjaga adikku?”
“Apakah aku ini penjaga teman sebangkuku?”
“Apakah aku ini penjaga teman sekantorku?”
“Apakah aku ini penjaga gerejaku atau negeriku?”
“Haruskah aku memperdulikan orang lain?”
            
Lalu...dengan cara bagaimanakah kita dapat dikatakan saling memperhatikan? Perhatikan apa yang dikatakan Rasul Yohanes ini: “Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” (I Yoh 3:18)

            
Ada baiknya kita tunduk kepala sejenak dan berdoa, untuk saudara di sebelah bangku kita, untuk teman sekantor kita, untuk tetangga kita, untuk saudara-saudara kita yang sedang susah di beberapa bagian wilayah negara Indonesia ini. Syukur-syukur bila kita bisa menunjukkan kepedulian kita dengan tindakan nyata. Amin.


EmoticonEmoticon