BENTENG DOA

....Pedang bertemu lagi dan lagi. Kegelapan menyelimuti ruangan: Kejahatan Rafar menjalar dan berkembang.


“Terangmu memudar?” cemooh Rafar. “Mungkin inilah kekuatanmu yang kini sedang memudar!”

Orang-orang Kudus Allah, di mana doa-doamu?”

Pukulan lain lagi. Bahu Tal. Dia membalas dengan satu sayatan yang mengenai tulang rusuk bawah Rafar. Udara kelam, penuh asap merah.

Beberapa bentrokan pedang lagi...menggores kulit, merobek baju, kegelapan bertambah.

Orang-orang kudus! Berdoa! BERDOA!

......Melalui uap dan kegelapan, Tal dapat melihat tubuh Rafar yang terpukul roboh terayun-ayun bak pohon besar terlanda angin. Setan itu tidak bergerak, dia tidak berusaha menyerang. Pedangnya masih bergelayut di tangannya, namun ujungnya sudah bengkok menyentuh lantai. Dia mendesah panjang perlahan-lahan. Hidungnya menyemburkan uap merah tua. Matanya -- matanya penuh kebencian -- seperti batu permata delima besar bercahaya. Rahangnya penuh liur dan gemetaran, dan kata-kata tidak jelas keluar melalui mulutnya. “Cuma...karena...orang kudusmu....yang berdoa! Cuma karena orang kudusmu...!”

Itu adalah cuplikan adegan terakhir peperangan antara bala tentara Allah dan tentara setan yang sengaja saya kutip dari buku “THIS PRESENT DARKNES” karya Frank E. Peretti. Buku yang berkategori fiksi rohani dan telah menjadi best seller ini, telah memberikan penjelasan tentang pentingnya doa-doa orang percaya dalam menentukan kemenangan pahlawan-pahlawan Allah. Buku ini telah membuka realita dunia roh dengan cara yang berbeda.

Tal, panglima bala tentara Allah bersama seluruh pasukannya dalam buku ini, bergerak dan memperoleh kekuatan dari doa-doa orang kudus Allah. Semakin banyak orang yang berdoa, semakin besar kekuatan para tentara Allah. Mereka dapat bertahan dan melakukan serangan dari balik benteng doa yang disusun oleh orang-orang percaya. Mereka dapat mengalahkan pasukan iblis bila benteng itu kokoh. Mereka dapat menyusun strategi dan tidak terbaca oleh tentara setan berkat benteng doa orang-orang percaya. Dan akhirnya mereka dapat memenangkan pertempuran, mengalahkan perwira-perwira setan yang ganas dan merebut kota-kota bagi Kristus berkat doa-doa orang percaya.

Ini adalah kenyataan dunia roh. Sebagai orang-orang percaya, kita memang berada di medan pertempuran. Setiap hari kita menghadapi peperangan dengan kuasa kegelapan. Kita menyerang atau kita diserang. Tak ada istilah berdamai dengan Iblis atau berdiri di garis netral. Kita tidak bisa berkata, “Kami adalah gerakan Non-blok.” 

Saya sering mengingatkan bahwa doa orang percaya adalah penentu bagi kelangsungan umat Tuhan di muka bumi. Gereja harus mulai menjadi pendoa-pendoa yang setia bila ingin merebut jiwa-jiwa dan memenangkannya bagi Kristus. Kita dapat menangkan tetangga kita, teman kita, kota ini bahkan bangsa ini bagi Tuhan, bila kita, gereja, dan bangsa ini, memiliki BENTENG DOA, sebagai tempat untuk menyusun strategi, bertahan dan menghancurkan ‘orang kuat’, perwira-perwira iblis dan pangeran-pangeran kegelapan di negeri ini!***


EmoticonEmoticon