PASTI ADA TUJUANNYA

Sejak kecil saya sudah sering sakit. Saya pernah terserang paru-paru basah pada umur 5 tahun. Dua atau tiga kali terserang malaria ketika duduk di bangku SD. Radang tenggorokan akut. Tiga kali mengalami Typus. Dua kali Disentri Amuba parah. Gangguan jantung,  bronkhitis kronis. Hampir seluruh hari-hari saya, saya lalui dengan penderitaan. Hari-hari sehat saya bisa dihitung dengan jari.


Pada saat saya mengikuti kuliah di seminari, hampir setiap minggu saya batuk dan radang tenggorokan yang sangat menyiksa dan itu saya alami sampai semester akhir. Pada semester paling akhir saya terserang TBC Kelenjar yang membuat kesehatan saya semakin melemah. Dokter menyarankan agar saya ambil cuti kuliah, tetapi saya optimis, selesai semester delapan saya bisa merampungkan skripsi saya. Beberapa bulan menjelang ujian skripsi, terjadi pembengkakan tulang di rahang bawah saya dan itu sangat mempengaruhi otak saya.

Sepanjang saya mengalami berbagai penyakit itu, apalagi ketika saya di seminari, ada teman-teman yang selalu menguatkan saya. Tetapi tidak sedikit yang memperolok saya. Mereka berkata: “Hamba Tuhan kok penyakitan. Bagaimana mau menyaksikan keajaiban Tuhan sementara dirinya sendiri sakit?” “Kamu banyak dosa. Kamu kurang doa. Kamu kena kutuk” dan sebagainya. Kadang saya merasa lemah dan berputus asa menghadapi kelemahan tubuh saya. Tetapi oleh kemurahan dan kekuatan dari Tuhan saya bisa menanggung dan melalui semua itu. Pada saat saya menulis refleksi inipun, saya sedang sakit. Saya tidak bisa berdiri. Saya hanya bisa duduk walaupun itu sangat tersiksa.

Ada banyak hal yang saya pelajari dari semua itu: bahwa pada saat kita lemah, kuasa Tuhan dinyatakan. Pada saat kita mengalami penderitaan, kita kaya akan anugerah Allah. Rasul Paulus dalam pelayanannya selalu dirong-rong oleh berbagai penderitaan, salah satunya adalah ‘duri dalam daging’ yang banyak dinyatakan sebagai kelemahan tubuh atau penyakit yang menjijikkan (Gal 4:14). Puji Tuhan, sampai saat ini pula saya masih bisa melayani Tuhan, meskipun dengan cara yang berbeda. Meskipun hanya dengan tulisan.

Bagi Anda yang mungkin mengalami berbagai penderitaan dan pencobaan dalam mengiring Tuhan Yesus. Jangan menjadi lemah. Dalam setiap penyakit, kelemahan tubuh, penderitaan, hinaan dan penganiayaan yang menimpa kita pada saat kita sungguh-sungguh mengiring Dia, tentu ada maksud yang tersembunyi dari Tuhan. Itu bukan kutuk! Tetapi ada tujuan Allah yang akan mendatangkan kebaikan bagi kita. Dan bila tujuan itu sudah terlaksana, Allah akan mengangkat semua itu. Jangan mundur atau berpaling dari Tuhan. Anda akan menjadi anak Tuhan yang jempolan bila Anda tetap bertahan. Apalagi pada saat Anda mengalami semua itu, Anda bisa menguatkan orang lain yang menderita pula. Anda akan mendapat nila “plus’ dari Allah. Bukankah penderitaan ringan yang kita tanggung di dunia ini tidak ada apa-apanya bila dibanding kemuliaan yang akan kita terima dalam Rumah Bapa kelak? Teruslah maju, teruslah menghasilkan buah dan jangan berhenti mengasihi Tuhan Yesus.**

This Is The Newest Post


EmoticonEmoticon